Mari kita cintai lingkungan dan alam tempat kita
berpijak, salam
lestari...........
DASAR DASAR
NAVIGASI
Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan
medan yang akan
dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan
di alam bebas.
Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi
kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba
belantara. Untuk itu memerlukan alat-alat seperti:
1.Peta topografi
2. Penggaris
3. Kompas
4. Konektor
5. Busur derajat
6. Altimeter
7. Pensil
Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi :
1. Pengenalan Peta
2. Pengenalan Kompas
3. Memakai peta dan kompas
dalam satu kesatuan
I. PENGENALAN PETA
Peta adalah gambaran seluruh atau sebagian permukaan bumi yang diproyeksikan
dalam dua dimensi pada bidang datar dengan metode dan perbandingan tertentu.
Peta yang biasanya digunakan dalam kegiatan pendakian gunung adalah peta
topografi. Selain pendaki gunung, jenis peta ini juga dipakai oleh
militer.kandungan
informasi yang dimiliki oleh peta topografi seperti relief permukaan bumi,
hutan,
pemukiman penduduk, jaringan sungai, jalan dan sebagainya, keistimewaan peta
topografi adalah skala yang besar namun hal ini menyebabkan peta topografi itu
hanya
menggambarkan suatu wilayah kecil saja.
Ukuran peta topografi sebagai berikut :
- Skala 1 : 50.000
- Skala 1 : 25.000
- Skala 1 : 5.000
Bagian –bagian pada peta :
1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas
lain
yang menonjol.
2. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di
bagian kiri bawah dari peta. Keterangan ini digunakan untuk menghitung sudut
variasi magnetisnya karena kutub magnetis selalu berubah setiap tahun
disebabkan
pengaruh rotasi bumi. Variasi ini dinamakan “Deklinasi”, variasi deklinasi ini
sangat
berpengaruh terhadap perhitungan dalam menggunakan peta dan kompas.
3. Nomor Peta (Indeks Peta)
Nomor peta berguna untuk memudahkan kita mencari peta yang dibutuhkan.
4. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang
digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan
interpretasi suatu daerah yang lebih luas.
5. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan
garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis
lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co
120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid.
Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke
utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal
Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat
dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.
Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi
peta. Kedua sistem koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara
internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan
koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.Misal: 72100 mE dibaca
21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain-lain.
6. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan
atau
lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).Misalnya
Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 250 m di medan yang
sebenarnya.
7. tanda peta
tanda peta adalah gambar bagaian-bagaian atau benda-benda medan yang
digambarkan dengan tanda-tanda tertentu dan telah ditentukan
8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian
Garis ketinggian adalah merupakan garis perbatasan bidang yang merupakan tempat
kedudukan titik-titik dengan ketinggian sama terhadap bidang referensi
(pedoman)
acuan tertentu.
Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.
Garis kontur dimaksudkan untuk mengetahui ketingian suatu daerah atau tempat
dari
permukaan laut dan juga dapat digunakan untuk mengenali atau mengetahui keadaan
medan yang sebenarnya dilapangan.
Ciri – ciri garis kontur
• Garis kontur yang lebih rendah selalu mengelilingi garis ketinggian yanglebih
tinggi, kecuali pada awal. Pada kawah garis konturnya ditambahkan titik – titik
yang lebih tinggi mengelilingi kontur yang lebih rendah.
• Kerapatan garis kontur yang berubah – ubah tidak memengaruhi beda ketinggian
garis kontur tersebut.
• Untuk daerah datar/landai gambar konturnya jarang – jarang, sedangkan untuk
daerah yang terjal atau curam garis konturnya rapat.
• Pungungan gunung/bukit terlihat di peta sebagai rankaian kontur berbentuk ”U”
yang menjorok keluar menjauhi puncak.
• Lembah terlihat dipeta sebagai huruf ”V” yang ujungnya tajam dan menjorok ke
dalam kearah puncak.
• Garis kontur terdiri dari dua macam, garis kontur tebal yang dikenal dengan
nama
”intermediate countour” dan garis kontur tipis yang dikenal dengan nama ”index
countour” atau disebut juga internal kontur. Untuk peta terbitan bakosurtanal,
garis kontur yang tipis atau yang berada diantara dua garis kontur tebal
berjumlah
tiga buah garis kontur dan selang garis konturnya untuk peta skala 1:50.000
adalah 25 meter, sedangkan untuk skala peta 1:25.000 adalah 12,5 meter.
Macam – macam tinggi
1.Tinggi Mutlak:
• Diukur dari permukaan laut, merupakan standardisasi penukuran.
• Pengukuran dilakukan pada waktu pasang surut. Tempat pengukurannya
dinamakan Peil.
• Tiggi mutlak digunakan sebagai titik yang menunjang ketiggian sebenarnya dari
permukaan laut.
• Tinggi mutlak juga digunakan untuk mengetahui tinggi nisbi relatif.
2.Tinggi Nisbi:
• Diukur dari tempat di mana benda itu berada.biasanya pengukuran
dilakukan/diambil dari permukaan tanah.
• Tinggi nisbi merupakan perbedan tingi dari dua titik atau tempat yang diukur.
• Tinggi nisbi dari tiap – tiap tempat tidak selalu sama. Artinya, mungkin bisa
sama
mungkin pula tidak sama.
Penentuan Suatu Titik atau Tempat di Peta
Menentukan suatu titik atau lokasinya di peta dapat dilakukan dengan beberapa
cara – cara ,yaitu:
1. Cara Kordinat Geografi
Sistem koordinat geografi ini adalah suatu sistem untuk menetukan kedudukan
suatu titik atau tempat di permukaan bumi (dalam bidang lengkung) sistem ini
dinyatakan dalam derajat dengan meridian greenwich sebagai lintang 0o.
sistem ini dipakai saat ini untuk navigasi dengan GPS Receiver.
Contoh: Misalkan titik A berada pada 6o 12’ LS dan 106o 53 ‘ BT
2. Cara Koordinat Peta
Sistem ini adalah untuk menentukan kedudukan suatu titik/tempat pada suatu
peta. Lembar peta dibagi atas garis – garis koordinat, yaitu garis mendatar
(sumbuh X/absis) nomor urut dari barat ke utara.
Koordinat peta dinyatakan dalam satuan panjang. Ada dua car untuk
menyatakan koordinat peta, yaitu:
• Cara 4 angka : Digunakan untuk memperlihatkan posisi suatu tempat
yang cukup lebar, missalnya untuk menunjukan lokasi kampung,
danau dan sebagainya. Jarak kira _kira 1000 meter. (sisi bujur sangkar
dibagi 1.000 meter)
• Cara 6 angka : Digunakan untuk menunjukan lokasi yang yang sempit.
Lokasi kemah, titik pertemuan (check point), dan lain –lain. Jarak 100
meter. (sisi bujur sangkar dibagi 10 bagian)
Contoh : dengan memakai sistem koordinat 6 angka, misalnya posisi kita pada
“X” antara 64 dengan 65, sedangakan pada garis”Y” antara 57 dengan 56. Garis –
garis
ini kemudian dibagia atas 10 bagian. Berdasarkan pembagian itu, tentukan pada
bagian
mana posisi kita tersebut. Dengan sistem 6 angka posisi kita adalah 641579,
sedangkan
dengan sistem 4 angka posis kita adalah 6457. sebelum kode tersebut kita
nyatakan,
kadang –kadang perlu disebutkan terlebih dahulu kode lembar peta bersangkutan
seperti
yang tercantum dibagian atas setiap lembar peta.
Ada beberapa sistem cara penentuan posisi yang lain seperti cara Karvak, Titik
pankal, dan car garis pangkal.semua sistem tersebut tidak dibahas disini.
Utara Peta (UP)
Utara peta adalah bagian atas dari peta yang ditunjukkan dengan garis – garis
tegak lurus atau sumbuh Y dari Grid peta. Utara peta disebut juga Grid North.
Garis –
garis Y dan X terbentuk dari proyeksi yang dihasilkan dengan garis bujur dan
lintang
bumi pada peta dan kemudia diproyeksikan kedalam koordinat (Grid). Utara peta
ini
sangat perlu diketahui karenah sering digunakan dalam berorientasi medan.
Utara Magnetis (UM)
Utara magnetis adalah arah yang ditunjukan oleh jarum kompas, yaitu suatu
tempat tertentu ke kutupautara magnetis bumi yang terletak si Jazirah Boshia,
di sebelah
utara Kanada. Utara magnetis atau Magnetis North, dilambangkan dengan setengah
anak
panah. Utara magnetis di indinesia bergerak disebelah timur dari utara peta.
Utara
magnetis hanya ada di medan lapangan.
Iktilaf Peta/Deklinasi
Dengan anggapan bumi adalah lonjongan maka mudah untuk memperbanyak hal
ini. Proyeksi pada sistem meridian paralel bumi yang berbentuk elipsi tersebut
jika kita
pindahkan padah sistem grid peta atau kedalaman bidang datara akan jelas sekali
akan
tidak tepat serta akna terdapat perbedaan – perbedaan. perbedaan – perbedaan
inilah
yang disebut deknilasi.
Iktilaf Magnetis
Bukan hanya pada utara peta (UP) dan utara sebenarnya (US) saja terjadi
penyimpangan. Kutub utara magnet dan kutub sebenarnya juga berbeda letak
titiknya. Ini
berarti ada penyimpangan pada iktilaf magnetis sudut yang dibentuk oleh utara
sebenarnya (US) dengan utara magnetis (UM) ke arah barat atau timur. Yang
menjadi
pokok perhitungannya adalah utara sebenaranya (US). Ini juga bergantung pada
letak
titik atau tempat tersebut di bumi. Sebagai contoh misalnya Iktilaf magnetis
(IM) = 8o
timur maka berarti sudut antara US dan UM besarnya akan 8o ke arah timur atau
kekanan (dengan catatan pengamat berada di sebelah kiri utara magnetis). Jika
pengamat
berda disebelah barat mjaka dia juga berad di sebelah kiri. Perhitungan
Deklinasi atau
iktilaf peta atau juga Iktilaf Magnetis ini dicantumkan pada lembaran peta.
Ikhtilaf Utara Peta (UP), Utara magnetis (UM)
Yaitu sudut yang dibentuk oleh utara peta dengan utara magnetis ke bara atau ke
timur dan yang menjadi pokok utamanya adalah utara peta .
Sudut Peta
Sudut peta merupakan suatu sudut yang terbentuk oleh dua buah garis. Garis yang
satu menuju kearah utara peta (UP) dan yang lainnya menuju sasaran atau obyek.
Sudut Kompas
Sudut kompas adalah suatu sudut yang dibentuk oleh dua buah garis lurus, yang
satu menuju utara magnetis (UM) dan yang lainnya menuju sasaran. Untuk catatan,
sudut
peta hanya digunakan/ terdapat di peta/kompas dan sudut kompas hanya ada di
medan
lapangan.
Variasi Magnetis
Varisi magnetis adalah perbedaan antara ikhtilaf magnetis pada waktu yang
berlainan. Oleh karena pengaru peputaran atau rotasi bumi dan juga peputaran
bumi
mengelilingi matahari yang dikenal juga dengan sebutan revolusi maka kutub
utara
magnetis selaluh berubah – ubah. Perputaran bumi ini menimbulkan suatu gaya
mendorong keluar atau dikenal juga dengan gaya sentripental. Letak kutub
magnetis
bumi selalu berubah pada setiap tahunnya. Ini juga menyebabkan ikhtilaf
magnetis atau
kutub utara magnetis juga berubah. Perbedaan – perbedaan ikhtilaf peta inilah
yang
disebut Variasi Magnetis. Variasi Magnetis tidak sama pada beberapa tempat. Di
Indonesia sendiri pada umumnya ditetapkan 2” per tahunnya. Pada peta topografi
yang
lama digunaka tabel Variasi Magnetis, dan pada peta topografi peralihan,
Variasi
Magnetis dan deklinasinyadigambarkan dengan sudut, dan ini terletak di kiri
bawah peta.
Penulisan Variasi Magnetis dinyatakan juga dengan Variasi rata – rata pada tiap
tahunnya. Ada juga peta yang tidak mencantumkan ikhtilaf peta, melainkan hanya
ikhtilaf Magnetis. Pada peta model seperti ini, iktilaf peta bisa kita dapat
kan dengan
melihat pada batas sebelah kiri atau kanan pada peta dan disana tertulis “Grid
Declination” atau ikhtilaf peta.
II. PENGENALAN KOMPAS
Kompas adalah peralatan umum yang paling dikenal dan paling populer di dunia
sebagai
alat petunjuk arah. Kompas mempunyai jarum yang berfungsi menunjukkan arah mata
angin. Kompas mempunyai pembagian arah mata angin sebanyak 32 buah dan garis
pembagi derajat dari 0o samapi 359o, arah yang ditunjukkan oleh jarum kompas inilah
yang dikenal dengan sebutan arah medan magnetik bumi, bukan arah kutub yang
sebenarnya.
Bagian-bagian kompas
1. Jarum kompas/jarum magnet
Jarum kompas merupakan bagian terpenting pada sebuah kompas. Jarum ini dibuat
dengan menggunakan magnet.
2. Piringan derajat
di dalam kompas ada lingkaran yang terdiri atas garis-garis. Garis ini dikenal
dengan
garis pembagi skala derajat. Cara membaca skala derajat ini searah dengan jarum
jam
yang dimulai dari arah utara magnetis, kemudian melingkar menuju titik utara
magnetis,
kemudian melingkar menuju titik utara magnetis kembali.
3. Skala piringan derajat
Ada banyak macam untuk skala piringan derajat ini. Pembagian derajat
internasional atau
standarnya adalah seperti sudut lingkaran yaitu 360o. kompas militer mempunyai
skala
6.000’: 6.300’ atau 64.00’
4. Rumah Kompas
Merupakan tempat bagian kompas tersebut berada. Didalam rumah kompas biasanya
juga
diberi cairan bening sebagai penangkal luar. Cairan ini berfungsi melindingi
kompas
terutama dalam suhu -4oC sampai 50 oC
Pada umumnya para penaki mengenal dua tipe kompas yang sering mereka gunakan di
lapangan. Kedua macam kompas tersebut adalah :
1. Kompas bidik atau kompas Prisma
kompas ini umumnya digunakan oleh militer, ettapi tidak menutup kemungkinan
bagi
pendaki gunung untuk memakainya.
2. Kompas protaktor/orientasi
Kompas jenis ini sudah dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris. Kompas
ini
sangat mudah digunakan. Terkadang kompas ini dilengkapi alat bidik. Jenis
kompas ini
banyak digunakan oleh kalangan penggiat kegiatan orientenering. Di Indonesia
kompas
ini dikenal dengan sebutak kompas Silva
MEMAKAI PETA DAN KOMPAS
DALAM SATU KESATUAN
A. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR
Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk
mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak
berlaku
untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-
1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga
berlaku
rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus
yang
baku, namun dapat dicari dengan:
1. Cari dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.
2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).
3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.
4. Bagilah selisih ketinggian antara A – B dengan jumlah kontur antara A – B, h
asilnya adalah Interval Kontur.
B. MENGENAL TANDA MEDAN
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan
orientasi
harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan
mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat
dibaca
pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:
1. Lembah antara dua puncak
2. Lembah yang curam
3. Persimpangan jalan atau Ujung desa
4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak
5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain.
Untuk daerah yang datar dapat digunakan:
1. Persimpangan jalan
2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain-lain.
C. MENGGUNAKAN PETA
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu
titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelum berjalan catatlah:
1. Koordinat titik awal (A)
2. Koordinat titik tujuan (B)
3. Sudut peta antara A – B
4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A – B
5. Berapa panjang lintasan antara A – B dan berapa kira-kira waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah
a) Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, baik di medan maupun di peta.
b) Gunakan tanda medan yang jelas baik di medan dan di peta.
c) Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai
dengan
tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
d) Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60
menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
e) Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
f) Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan
perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan
landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan
lainlainnya.
g) Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat
lintasan
dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan
dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan
kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur
dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan
sebenarnya.
D. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda
tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim
Bum
berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim
Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka
langkah-langkah
yang harus dilakukan adalah :
a. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan
dimulai dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
b. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T,
kemudian
dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A – T dari titik A ke
arah
garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ -360°) searah
putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
c. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T.
Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan
setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis
kontur.
Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi waktu tempuh :
a. Kemiringan lereng + Panjang lintasan
b. Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun
pasir).
c. Keadaan cuaca rata-rata.
d. Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).
e. Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.
E. MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:
1. Cara Koordinat Peta
Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan.
Penunjukkan koordinat ini menggunakan:
a. Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461)
b. Cara Delapan Angka Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)
2. Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0
atau 106° 4$’ 27,79″. Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah
kota
Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan
sebaliknya.
Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat
geografis
yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.
F. SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.
Sistem
pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° – 360°). Sistem Azimuth adalah
sistem
yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai
dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara).
Bertujuan untuk
menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan
arah
perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah
lintasan
yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.
Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya
AZIMUTH : SUDUT KOMPAS
BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°.
Bila
sudut kompas < 1800 maka sudut kompas ditambah 180°.
G. TEKNIK MEMBACA PETA
Prinsipnya . ” Menentukan posisi dari arah perjalanan dengan membaca peta dan
menggunakan teknik orientasi dan resection, bila keadaan memungkinkan ” Titik
Awal :
Kita harus tahu titik keberangkatan kita, balk itu di peta maupun di lapangan.
Plot titik
tersebut di peta dan catat koordinatnya.
1. Tanda Medan : Gunakan tanda medan yang jelas (punggungan yang menerus,
aliran sungai, tebing, dll) sebagai guide line atau pedoman arah perjalanan.
Kenali
tanda medan tersebut dengan menginterpretasikan peta.
2. Arah Kompas : Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita. Apakah
sesuai dengan arah punggungan atau sungai yang kita susuri.
3. Taksir Jarak : Dalam berjalan, usahakan selalu menaksir jarak dan selalu
memperhatikan arah perjalanan. Kita dapat melihat kearah belakang dan melihat
jumalah waktu yang kita pergunakan. Jarak dihitung dengan skala peta sehingga
kita memperoleh perkiraan jarak di peta. Perlu diingat, bahwa taksiran kita itu
tidak pasti.
+10′ X 10′ untuk peta 1 : 50.000
+ 20′ X 20′ untuk peta 1 : 100.000
Untuk peta ukuran 20′ X 20′ disebut juga LBD, sehingga pada 20′ pada garis
sepanjang khatulistiwa (40.068 km) merupakan paralel terpanjang.
40.068 km: (360° : 20′) = 40.068 km: (360° : 1/3) = 40.068 km: (360° X 3)
40.068
km : 1080 = 37,1 km
Jadi 20′ pada garis sepanjang khatulistiwa adalah 37,1 km. Jarak 37,1 km kalau
digambarkan dalam peta skala 1 : 50.000 akan mempunyai jarak : 37,1 km =
3.710.000 cm. Sehingga dipeta : 3.710.000: 50.000 = 74,2 cm.
Akibatnya I LBD peta 20′ x 20′ skala 1 : 50.000 di sepanjang khatulistiwa
berukuran 74,2 X 74,2 cm. Hal ini tidak praktis dalam pemakaiannya.
4. Lembar Peta
Dikarenakan LBD tidak praktis pemakaiannya, karena terlalu lebar. Maka tiap
LBD dibagi menjadi 4 bagian dengan ukuran masing-masing 10′ X 10′ atau 37,1
X 37,1 cm. Tiap-tiap bagian itu disebut Lembar Peta atau Sheet, dan diberi
huruf
A, B, C, D. Jika skala peta tersebut 1 : 50.000, maka peta itu mempunyai ukuran
50.000 X 37,1 = 1.855.000 cm = 18,55 km (1ihat gambar).
5. Penomoran Lembar Peta
a. Meridian (garis bujur) yang melalui Jakarta adalah 106° 48′ 27,79″ BT,
dipakai
sebagai meridian pokok untuk penornoran peta topografi di Indonesia. Jakarta
sebagai grs bujur 0
b. Panjang dari Barat ke Timur = 46° 20′, tetapi daerah yang dipetakan adalah
mulai dari 12″ sebelah barat meridian Jakarta. Daerah yang tidak dipetakan
adalah
: 106° 48′ 27,79″ BT – (12° + 46° 20′ BT) = 8′ 27,79″, daerah ini merupakan
taut
sehingga tidak penting untuk pemetaan darat. Tetapi penomorannya tetap dibuat
Keterangan
+ Daerah pada petak A dituliskan sheet 1/I-A dan titik paling Utara dan paling
Barat ada di Pulau Weh.
+ Cara pemberian nomor adalah dari Barat ke Timur dengn angka Arab (1, 2, 3, ,
139). Dari Utara ke Selatan dengan angka Romawi (I, II,III LI).
+ LBD selau mempunyai angka Arab dan Romawi. Contoh : LP No. 47[XLI atau
SHEET No. 47/XLI.
+ Lembar peta selalu diben huruf, dan huruf itu terpisah dari nomor LBDnya
dengan gar’s mendatar. Contoh: LP No. 47/XLI – B.
c. Pada uraian diatas disebutkan bahwa garis bujur 0° Jakarta selalu membagi
dua
buah LBD. Maka untuk lembar peta lainnya selalu dapta dihitung berapa derajat
atau menit letak lembar peta itu dan’ bujur 0° Jakarta
Contoh: Lembar Peta No. 39/XL – A terletak diantara garis 7″ dan 70 10′ LS
serta
0° 40′ dan 0° 50′ Timur Jakarta. Kita harus selalu menyebutkan Lembar Peta
tersebut terletak di Barat atau Timur dan’ Jakarta.
d. Pada Lembar Peta skala 1 : 50.000, LBD-nya dibagi menjadi 4 bagian. Tetapi
untuk peta skala 1 : 25.000, 1 LBD-nya dibagi menjadi 16 bagian dan diberi
huruf
a sampai q dengan menghilangkan huruf j
e. Mencari batas Timur dan Selatan suatu.Sheet atau Lembar Peta.
Contoh
+ Batas Timur dari bujur 0″ Jakarta adalah 47/3 X I = 15″ 40′ Timur Jakarta
atau
15° 40′ – 12° = 3° 40′ BT Jakarta (batas paling Timur Sheet B).
+ Batas Selatan dan 0° Khatulistiwa adalah 47/3 : 1 = 13″ 40′ atau 13° 40′ 6″ =
7°
40′ LS. Karena terlatak pada Lembar Peta B dalam 1 LBD, maka dikurangi 10′.
Sehingga didapat : 7° 40′ – 10′ = 7″ 30′ LS
f. Mencari nomor Lembar Peta atau Sheet. Batas Timur Jakarta = 15″ 40′, sedang
batas Selatan adalah 7″ 30′ LS. + Jumlah LBD ke Timur = 15° 40′ X 3 X 1 LBD =
47 LBD + Jumlah LBD ke Selatan 13″ 40′ X 3 x 1 LBD = 41 LBD (XLI)
g. Mencari suatu Posisi/Lokasi Contoh : sebuah pesawat terbang jatuh pada
koordinat.- 110° 28′ BT dan 7° 30′ LS. Cari nomor Lembar Petanya Caranya
adalah
+ 110° 28′ – 94″ 40′ = 15″ 48′
15° 48′ X 3 = 47t’ 24′ (batas paling Timur)
+ 60 + 7″ 30′ = 13″ 30′
130 30′ X 3 = 40° 30′ (batas paling Selatan)
h. Perhitungan di Koordinat Geografis
+ CARA I
Luas dari I Sheet peta adalah 10′ X 10′, seluas 18,55 km X 18,55 km pada peta 1
-
50.000. Sehingga di dapat (10 X 60 – 18,5 5) – 20 = 1,617, dibulatken menjadi
1,62 (sebagai konstanta). Misal peta yang digunakan peta Sheet No. 47/XLI – B
Triangulasi T. 932 terletak pada : 46 mm dari Timur dan 16 mm dari Selatan.
1915
Posisi Sheet 47/XLI – B
1060 48` 27,79″ + 30 40′ = 110° 28′ 27,79″
Dari Timur: 46 mm X 1,62 = 1′ l4°52″
1100 28′ 27,79″ BT – 1′ 14,52″ = 110° 27′ 13,27″ BT
(dikurangi karena semakin mendekati ke titik Jakarta).
Dari selatan : 16 mm X 1,62 = 25,92″
7° 30′ LS – 25,92″ = 7f’ 29′ 34,08″ LS (dikurangi karena semakin mendekati
equator).
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat: 110° 27′ 13,27″ BT
dan
7° 29′ 34,08″ LS. 1915
Untuk penggunaan peta 1 : 25.000, cara penghitungannya sama, hanya
konstantanya diubah menjadi 0,81, yang didapat dari :
{(5 X 60) : 18,55 1 : 20 = 0,808, dibulatkan menjadi 0,81
Luas dari 1 Sheet peta skala 1 : 25.000 adalah 5′ X 5′
+ CARA 11
Dari Timur : 46 mm = (46 : 37,1) X 60 = 1 ‘ 14,39″
110° 28′ 27,79″ BT – 1′ 14,39″ = 11 Of’ 27′ 13,40″ BT
Dari Selatan: 16 mm = (16 :37,1) X 60 = 25,87″
7° 30′ LS – 25,87″ = 7t’ 29′ 34,13″ LS
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat : I I0” 27′ 13,40″ BT
dan
7° 29′ 34,13″ LS. 1915
Pada hasil perhitungan Cara I dan Cara II terdapat selisih 0,13″ untuk BT dan
0,05″ untuk LS. Hal ini tidak jadi masalah karena masih dalam batas toleransi
dan
koreksi, yaitu kurang dari 1,00″.
Untuk penggunaan peta 5′ X 5′, 10′ X 10′ dan 20′ X 20′ tetap menggunakan
pembagi 37,1. Sebaliknya, Jika ada laporan dengan koordinat gralicule, maka
cara
menentukan lokasinya pada peta adalah (Contoh) “Satu unit SRU menempati
sebuah lokasi dengan koordinat 110° 27′ 13,27″ BT dan 7° 29′ 34,08″ LS,
tentukan lokasi SRU tersebut pada peta Sheet No. 47/XLI – B” JAWAB : Posisi
peta 47/XLI -B : 110° 28′ 27,79″ BT sehingga 110° 27, 13,27″ BT 1 10 “27′ 13,27
1′ 14,52″ – 74,52″ ,74,52″ : 1,62 = 46 mm dari timur, dan ukurlah dengan
penggaris Batas Selatan : 7°30′ sehingga didapat 7030′ LS -7029′ 34.08″ =
25.92″
25,92″ : 1,62 = 16 mm dari selatan dan ukurlah dengan penggaris Titik
perpotongan kedua garis tersebut adalah lokasi dari SRU yang dimaksud, yaitu 46
mm dari sisi timur dan 16 mm dari sisi selatan berada di sekitar Tnangulasi
T.932
Mendaki Gunung sekarang
adalah salah satu hobi unik yang banyak digemari banyak kalangan. Kegiatan
mendaki gunung merupakan petualangan yang
menantang, kadang pula merupakan kegiatan yang sangat ekstrim buat seseorang.
Orang akan mempunyai perasaan puas tersendiri bila sampai di puncak gunung dan
melihat keindahan kawah gunung dari jarak dekat. Tetapi semua itu tidak akan
mudah didapatkan tanpa persiapan dan perhitungan yang matang.
Berikut tips
mendaki gunung:
Pilih Barang
yang Dapat Berfungsi Ganda
Dalam
memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki gunung selalu cari
alat/perlengkapan yang
berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban
yang harus anda bawa. Contoh : Nesting (tempat memasak untuk tentara), bisa
digunakan untuk memasak juga untuk tempat makan maupun menyimpan alat-alat
mendaki. Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus
sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak
memakan tempat di ransel.
Matras
Sebisa
mungkin
matras disimpan di
dalam ransel jika akan pergi ke lokasi yang hutannya lebat, atau jika akan
membuka jalur pendakian baru. Banyak pendaki gunung yang lebih senang
mengikatkan matras di luar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada
di jalur pendakian, baru
terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon
dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.
Manajemen Pendakian
Kantung
Plastik
Selalu
siapkan kantung plastik/ trash bag di dalam ransel anda, karena akan
berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun
gunung, baju basah dan lain sebagainya. Dapat juga berfungsi untuk lapisan anti
air bagi ransel. Atau dapat juga dimanfaatkan sebagai jas hujan saat darurat.
manajeman
mendaki
Gunakan
selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang-barang di dalam ransel anda
(dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini
untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.
Menyimpan
Pakaian
Jika anda
meragukan ransel yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian
anda di dalam kantung plastik, gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab.
Sebaiknya
pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan
pakaian bersih
Menyimpan
Makanan
Sebaiknya
makanan dikelompokkan sesuai ketahanan/ awetnya makanan disimpan. Untuk makanan
yang tidak terlalu tahan lama, sebaiknya dibungkus dengan rapat atau di
tempatkan memakai perlakuan khusus. Pilihlah makanan yang bervariasi tetapi
mudah dan cepat dalam penyajian. Untuk makanan kaleng ada baiknya tidak terlalu
banyak, karena selain berat kita juga harus membawa turun lagi kalengnya
setelah dikonsumsi, karena dapat menyebabkan pencemaran lingkungan jika dibuang
sembarangan.
Menyimpan
Korek Api Batangan
Simpan korek
api batangan anda di dalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda
selalu kering.
Packing
Barang / Menyusun Barang Di Ransel
Selalu
simpan barang yang paling berat di posisi atas, gunanya agar pada saat ransel
digunakan, beban terberat berada di pundak anda dan bukan di pinggang anda
hingga memudahkan kaki melangkah saat pendakian gunung maupun saat
turun nantinya. Usahakan untuk selalu mengingat-ingat dimana barang bawaan anda
di tempatkan di dalam ransel, karena ada kalanya kita akan mencari barang
tersebut dengan penerangan yang tidak memadai, jadi akan lebih cepat jika anda
mengetahui dengan pasti dimana letak barang yang anda cari tanpa melihatnya
sekalipun. Akan lebih baik anda membawa hal-hal yang menunjang selama perjalanan dan jangan
membawa barang yang tidak dibutuhkan selama anda mendaki, karena selain tidak
akan berguna juga memberatkan bekal bawaan di perjalanan.
Obat- obatan
Ada kalanya
penting juga untuk membawa obat-obatan P3K, atau obat-obat pribadi dalam
kantung atau tempat yang mudah terjangkau, karena jika kita mengalami keadaan
yang darurat obat itu mudah untuk ditemukan semua orang.
Minuman
beralkohol
Sebaiknya
tidak dibawa. Sering kali orang ditempat dingin membutuhkan minuman yang
hangat, akan tetapi minuman beralkohol bukan pilihan yang tepat disana. Oleh
karena minuman tersebut dapat memicu pecahnya kapiler darah karena terlalu
cepatnya kapiler darah memuai dalam tubuh.
Manajemen
Pendakian
Mendaki
Ada baiknya
sebelum memulai pendakian, Anda
mencari informasi jalur dan angkutan serta info-info penting lainnya pada para
pendaki yang pernah berkunjung kesana, karena hal itu akan sangat berguna untuk
persiapan pendakian berkaitan dengan bujet (dana), alat dan perlengkapan yang
akan dibawa, transportasi apa yang memungkinkan dan paling cepat, berapa lama
anda akan menginap, serta makanan apa saja yang akan anda siapkan, berapa
banyak air yang harus dibawa, dll. Hal itu sangat penting mengingat kita akan
jauh dari fasilitas yang bisa kita dapatkan di perkotaan, sehingga jika terjadi
hal-hal yang di luar kendali kita, paling tidak kita ada persiapan sebelumnya.
Pendakian
Cahaya /
Lampu
Benda ini
sifatnya sangat vital, tetapi kadang kurang diperhatikan. Ada baiknya kita
membawa cadangan sumber cahaya di gunung. Bisa memakai senter ataupun
penerangan konvensional semacam lilin ataupun lampu minyak. Hal ini dapat
dipilih berdasarkan murah dan gampangnya bahan bakarnya didapatkan. Hal lain
yang musti menjadi perhatian adalah, jika mengunakan penerangan berupa api
harus mewaspadai keamanan dan tempatnya karena akan jadi mimpi buruk jika kita
tidak berhati-hati dalam menjaganya. Sediakan pula dop dan baterai cadangan dan
simpan di tempat yang mudah dijangkau, sehingga jika dibutuhkan sewaktu-waktu
dapat segera ditemukan. Ada baiknya baterai bekas di bawa turun lagi, agar
tidak menyebabkan polusi.
Jas Hujan
Perlengkapan
satu ini mutlak dibawa walaupun tidak musim hujan, karena perlengkapan ini
mempunyai banyak fungsi di gunung. Selain dipakai saat hujan tiba, jas hujan
dapat juga digunakan sebagai tenda darurat (bivoak), alas tidur darurat, atap
darurat, selimut darurat, juga bisa dipakai sebagai unsur penting tandu
darurat. Jadi jangan sepelekan perlengkapan yang satu ini.
Selamat
Mendaki…… Sayangilah Hutan Kita…
Tips 2
Panjat Tebing
I. PENDAHULUAN
Mendengar kata Rock Climbing (panjat tebing), kita
seperti dikenalkan pada suatu jenis olahraga baru. Benarkah kita belum
mengenalnya? Barangkali kita masih ingat masa kecil dulu, alangkah gembiranya
kita bermain, memanjat tembok, pohon-pohon, atau batu-batu besar, di mana kita
tidak memikirkan resiko jatuh dan terluka, yang ada adalah rasa gembira.
Sebenarnya kegiatan Rock Climbing tidak jauh dari itu, cuma kali ini
kita sudah memilih medan tertentu dengan memikirkan resikonya.
Pada dasarnya Rock Climbing adalah bagian dari
Mountaineering (kegiatan mendaki gunung, suatu perjalanan petualangan ke
tempat-tempat yang tinggi), hanya di sini kita menghadapi medan yang khusus.
Dengan membedakan daerah atau medan yang dilalui, Mountaineering dapat dibagi
menjadi : Hill Walking, Rock Climbing dan Ice/Snow Climbing. Hill
Walking merupakan perjalanan biasa melewati serangkaian hutan dan perbukitan
dengan berbekal pengetahuan peta/kompas dan survival. Kekuatan kaki menjadi
faktor utama suksesnya suatu perjalanan. Untuk Rock Climbing, medan yang
dihadapi berupa perbukitan atau tebing di mana sudah diperlukan bantuan tangan
untuk menjaga keseimbangan tubuh atau untuk menambah ketinggian. Ice/Snow
Climbing hampir sama seperti halnya dengan Rock Climbing, namun medan
yang dihadapi adalah perbukitan atau tebing es/salju .
Kadang-kadang akan timbul pertanyaan pada kita, seperti ini :
Kenapa sih naik gunung? George L. Mallory (pendaki Inggris) menjawab pertanyaan
ini dengan mengatakan, Because it’s there.. Lalu pertanyaan lain, Apa
yang kau dapatkan di sana ? Seorang pendaki akbar, Reinhold Messner berkata : The
mountains tell you, quite ruthlessly, who you are, and what you are.
Mountaineering is a game where you can’t cheat ..., more than that, what’s important
is your determination cool nerves, and knowing how to make the right choice.
Olahraga seperti ini adalah nikmat, dan barangkali sedikit
egois. Segala kenikmatan pada saat kita menyelesaikan sebuah medan sulit adalah
milik kita sendiri, tidak ada sorak sorai, apalagi kalungan medali. Sebaliknya,
adanya kecelakaan dalam suatu pendakian adalah karena kelalaian kita sendiri,
kurang hati-hati dan kurang memperhitungkan kemampuan diri. Banyak pendaki yang
melakukan turun tebing (rappeling / abseiling) dengan melompat dan
sangat cepat, ini sangat berbahaya. Untuk kita, sebaiknya menganggap kegiatan
panjat tebing sebagai hobi, seperti hobi-hobi lainnya. Sebagai gambaran bisa
kita simak perkataan Walter Bonatti, seorang pendaki kawakan dari Italia, saat
melakukakn pendakian solo pada dinding yang mengerikan di Swiss. Ketika ia
sedang menghadapi kesulitan melewati overhang (dinding menggantung dengan
kemiringan > 90 derajat), sebuah pesawat mengitarinya yang rupanya
mencarinya. Kehadiran pesawat menekan kesendiriannya : “ Siapa yang mengatakan
bahwa mereka melihatku ?, aku berfikir dan merasa bahwa pesawat tersebut adalah
bagian dariku, yang kini meninggalkan dan merobek hatiku. Aku mulai sadar bahwa
aku lebih suka jika terdapat kesunyian yang mutlak. Semua yang terjadi dalam
waktu singkat tadi seakan-akan merupakan usaha akhir untuk menghubungkan diriku
dengan kehidupan yang tidak mempunyai arti lagi bagiku. Pesawat itu
berputar-putar kemudian meninggalkan diriku seperti mati.”
Akhirnya, marilah kita mencoba lebih mengenal panjat tebing
yang nikmat itu. Pada tulisan ini, pembicaraan hanya terbatas pada pembahasan
panjat tebing, dengan tidak mengecilkan yang lain, Hill Walking dan Ice/Snow
Climbing.
II. KLASIFIKASI PANJAT TEBING
Dalam panjat tebing terdapat 2 klasifikasi pembedaan, yaitu :
1. Pembedaan yang pertama adalah antara Free Climbing dengan
Artificial Climbing.Free Climbing adalah suatu tipe pemanjatan di mana si
pemanjat menambah ketinggian dengan menggunakan kemampuan dirinya sendiri,
tidak dengan bantuan alat. Dalam Free Climbing, alat digunakan hanya sebatas
pengaman, bukan sebagai alat untuk menambah ketinggian. Bedanya dengan
Artificial Climbing, di mana alat selain digunakan sebagai pengaman, juga
berfungsi untuk menambah ketinggian.
2. Pembedaan yang kedua adalah antara Sport Climbing dengan
Adventure Climbing.Sport Climbing adalah suatu pemanjatan yang lebih menekankan
pada faktor olahraganya. Dalam Sport Climbing, pemanjatan dipandang seperti
halnya olahraga yang lain, yaitu untuk menjaga kesehatan. Sedangkan pada
Adventure Climbing, yang ditekankan adalah lebih pada nilai petualangannya.
III. KELAS DAN GRADE DALAM PANJAT TEBING
Kelas
Seperti dalam olahraga lainnya, seseorang atlit dapat
diukur kemampuannya pada suatu tingkat pertandingan. Pemain catur dengan
elorating dibawah 2000 tidak akan dapat mengikuti turnamen tingkat Gand Master.
Dalam panjat tebing terdapat klasifikasi tebing berdasarkan tingkat
kesulitannya, dengan demikian kita dapat mengukur sampai di mana kemampuan
kita. Kelas yang dibuat oleh Sierra Club adalah :
Kelas 1:Cross Country Hiking
Perjalanan biasa tanpa membutuhkan bantuan tangan
untuk mendaki / menambah ketinggian.
Kelas 2:Scrambling
Sedikit dengan bantuan tangan, tanpa tali.
Kelas 3:Easy Climbing
Secara scrambling dengan bantuan , dasar teknik
mendaki (climbing) sangat membantu, untuk pendaki yang kurang pengalaman dapat
menggunakan tali.
Kelas 4:Rope Climbing with belaying
Belay (pengaman) dipasang pada anchor (titik tambat)
alamiah atau buatan,berfungsi sebagai pengaman.
Kelas 5
Kelas ini dibagi menjadi 11 tingkatan (5.1 sampai
5.14), di mana semakin tinggi angka di belakang angka 5, berarti semakin tinggi
tingkat kesulitan tebing. Pada kelas ini, runners dipakai sebagai pengaman.
Kelas A
Untuk menambah ketinggian, seseorang pendaki harus
menggunakan alat. Dibagi menjadi lima tingkatan (A1 sampai A5). Contoh : Pada
tebing kelas 5.4 tidak dapat dilewati tanpa bantuan alat A2, tingkat kesulitan
tebing menjadi 5.4 - A2.
Grade
Merupakan ukuran banyaknya teknik pendakian yang diperlukan.
Faktor rute yang sulit dan cuaca buruk dapat menambah bobot grade menjadi lebih
tinggi. Sebagai contoh, tebing kelas 5.7 yang rendah dan dekat dengan jalan
raya, mungkin akan mempunyai grade I (satu). Pembagian grade adalah sebagai
berikut.
tabel 1. pembagian grade
IV. ETIKA DAN GAYA DALAM PANJAT TEBING
A.ETIKA
Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang
dianut suatu golongan atau masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai
biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal. Dan antara suatu masyarakat
dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda terhadap suatu
hal yang sama.
Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap
berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik
rap bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan
pemanjatan ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai
peraturan konservasi alam yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak
dapat dibenarkan oleh para pemanjat tradisional di kawasan ini, di antaranya
adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua jalur yang ada di Yosemite
harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat (leading). Kasus
ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua
pemanjat yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana
etika sering menimbulkan perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai
masalah yang kerap timbul di sekitar pembuatan jalur.
Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :
Masalah teknik pembuatan jalur
Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini
banyak dianut, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur
secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik
ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang akan dilewati sama
sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional
ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh
pemanjat tradisional Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern
terdiri dari dua cara yang banyak digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik
tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat
dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix rope
yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama,
tetapi tidak dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara
ini, pembuat jalur dapat membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman
lebih presisi karena gerakan pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.
Masalah penamaan jalur
Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur
atau pemanjat pertama yang menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya.
Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi orang pertama yang
menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan untuk
membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang
dibuat terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di
Indonesia biasanya nama jalur merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang
atau sekelompok pembuat jalur.
Masalah keaslian jalur
Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman
tetap yang ada dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt
sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena
dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi sebuah jalur. Yang menjadi masalah,
apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh tak dapat ditambah
dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar
boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang
berhasil memanjat suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter,
dengan hanya 2 bolt saja, hal ini berlaku bagi semua pemanjat yang akan
menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi. Tradisi ini memang
mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup menuntaskan
jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2 bolt
saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan
jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang
ada? Sampai sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama?
(sampai yang paling ekstrim)
Pengubahan bentuk permukaan tebing
Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa
hal itu haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur
tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh
kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini, namun
hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar kesinambungan
jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.
B. GAYA
Pengertian gaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan
peralatan serta derajat petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti
tingkat ketidakpastian hasil yang akan dicapai.
Gaya harus sesuai dengan pendakian. Gaya yang berlebihan untuk
tebing yang kecil, sebaik apapun gaya tersebut akhirnya menjadi gaya yang
buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan teknis terbatas adalah gaya yang
baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya. Kita dapat
menggunakan point-point alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada
batu yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada
pendakian sendiri, tanpa menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikan gaya
dengan pendakian dan kemampuan diri. Gaya yang baik adalah persesuaian yang
sempurna - penapakan dari dua sisi yang baik antara ambisi dan kemampuan.
Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat
diterapkan dan juga memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing
rute. Itulah prinsip pendakian pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat
membimbing kita dalam masalah gaya dan etika. Kita telah memiliki standar
minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran. Penerimaan terhadap
prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat tentang
gaya umum. Keuntungan lain adalah gaya dari pendakian pertama adalah gaya yang
layak, dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya
bahwa rute tersebut, paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang
yang menyelesaikannya, dan memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta
menganggap pendakian mereka sebagai suatu hasil karya, maka pendakian meraka
bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.
Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long
menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya
yang ada, di antaranya adalah :
Onsight Free Solo
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba
dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur
tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tanpa tali.
Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama kali bagi seorang
pemanjat tanpa informasi apa-apa.
Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba
walaupun belum hapal benar jalur tersebut.
Worked Solo
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba
berkali-kali sampai benar-benar hapal mati seluruh bentuk permukaan tebing.
Onsight Flash / Vue
Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat
lain dijalur yang sama, juga tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat
dengan menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasangpengaman (running
belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat
disepanjang jalur.
Beta Flash
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur
tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya
(crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang
jalur.
Déjà vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun
sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan kemampuan
memanjat yang lebih baik , ia kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang
jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik,
tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.
Pink Point
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada
tempatnya.
Brown Point
Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat
merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan
pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh (hangdogging). Pemanjatan
dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan
dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang
masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik,
strategi, atau trik untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu
jalur.
Setelah begitu banyak melihat gaya pemanjat dalam menuntaskan
jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang lebih sulit. Dengan begitu dapat
pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.
C. PERTIMBANGAN LAIN
1. Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian
tebing adalah sesuatu kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang
harus diperhatikan adalah masalah penggunaan runners alam dan chockstone
buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap utuh.
Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih
menimbulkan cacat pada tebing. Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.
Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama
menggunakan piton, kita harus berusaha memperkecil penggunaan piton karena
sifatnya yang merusak
2. Sampah
Jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng
tesebut dan bawalah keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak
dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya disimpan kembali karena tidak dimakan oleh
binatang dan sangat lambat pembusukannya.
V. TEKNIK PANJAT TEBING
A. STRUKTUR GUNUNG
Dengan mengetahui struktur suatu gunung, akan lebih mudah bagi
kita untuk merencanakan sebuah rute yang akan didaki. Merencanakan tempat untuk
berhenti istirahat, dan sebagainya. Faktor lain yang memiliki kaitan erat
adalah musim dan cuaca terutama arah angin. Akan lebih sulit apabila kita
mendaki dinding selatan pada saat angin bertiup kencang dari arah selatan daripada
kalau angin bertiup dari utara.
Sebelum seseorang memanjat tebing, seperti juga pada Hill Walking,
maka diperlukan pengetahuan rute yang akan diambil. Di negara-negara maju
disediakan buku petunjuk rute suatu tebing dengan tingkat kesulitannya. Pendaki
dapat memilih rute yang akan didaki dengan memperhitungkan kemampuannya.
B. PERALATAN PANJAT TEBING
1. Tali
Fungsi utama tali adalah untuk melindungi pendaki dari kemungkinan
jatuh sampai menyentuh tanah (freefall). Berbagai jenis tali yang digunakan
dalam Panjat Tebing adalah :
a. Tali serat alam
Jenis tali ini sudah jarang digunakan. Kekuatan tali ini sangat
rendah dan mudah terburai. Tidak memiliki kelenturan, sehingga membahayakan
pendaki.
b. Hawser Laid
Tali sintetis, plastik, yang dijalin seperti tali serat alam.
Masih sering digunakan terutama untuk berlatih turun tebing. Tali ini relatif
lebih kuat dibanding tali serat alam dan tidak berserabut. Kelemahannya adalah
kurang tahan terhadap zat kimia, sulit dibuat simpul dan mempunyai kelenturan
rendah serta berat.
c. Core dan Sheat Rope (Kernmantel Rope)
Tali yang paling banyak digunakan saat ini, terdiri dari lapisan
luar dan dalam. Yang terkenal adalah buatan Edelrid, Beal dan Mammut. Ukuran
tali yang umum dipakai bergaris tengah 11 mm, panjang 45 m. Untuk pendakian
yang mudah, snow climbing, atau untuk menaikkan barang dipakai yang berdiameter
9 mm atau 7 mm. Tali ini memiliki sifat-sifat :
- Tidak tahan terhadap gesekan dengan tebing, terutama tebing laut
(cliff). Bila dipakai untuk menurunkan barang, sebaiknya bagian tebing yang
bergesekan dengan tali diberi alas (pading). Tabu untuk menginjak tali jenis
ini.
- Peka (tidak tahan) dengan zat kimia.
- Tidak tahan terhadap panas. Bila tali telah dicuci sebaiknya dijemur di
tempat teduh.
- Memiliki kelenturan yang baik bila mendapat beban kejut (karena pendaki
jatuh, misalnya)
Pada umumnya tali-tali tersebut akan berkurang kekuatannya bila
dibuat simpul. Sebagai contoh, simpul delapan (figure of eight) akan mengurangi
kekuatan tali sampai 10%.
Karena sifat tali yang demikian, maka dibutuhkan perawatan dan
perlakuan yang baik dan benar. Cara menggulung tali juga perlu diperhatikan
agar tidak kusut, sehingga tidak mudah rusak dan mudah dibuka bila akan
digunakan. Ada beberapa cara menggulung tali, antara lain :
- Mountaineers coil
- Skein coil
- Royal robin style
gambar2.
berbagai teknik menggulung tali
2. Webbing (tali pita) dan Sling
Seringkali kita menyebut webbing sebagai sling atau sebaliknya.
Webbing memiliki bentuk seperti pita, dan ada dua macam. Pertama lebar 25 mm
dan berbentuk tubular, sering digunakan untuk :
- Harness (tali tubuh), swami belt, chest harness, atau
- Alat bantu peralatan lain, sebagai runners (titik pengaman), tangga (etrier)
atau untuk membawa peralatan.
Webbing yang lain memiliki lebar 50 mm dan berbentuk pipih, yang
biasa digunakan untuk macam-macam body slings. Webbing yang sering disebut juga
sebagai flat rope adalah produk sampingan perang dunia II.
gambar 3. carabiner screw gate
3. Carabiners (snapring, snapling, cincin kait)
Secara prinsip, carabiner digunakan untuk
menghubungkan tali dengan runners (titik pengaman), sehingga carabiner dibuat
kuat untuk menahan bobot pendaki yang terjatuh.
Persyaratan yang harus dibuat oleh assosiasi pembuat peralatan
panjat tebing mengharuskan carabiner dapat menahan bobot 1200 kilogram force
(kp) atau sekitar 2700 pounds. Sedangkan beban maksimum yang diperbolehkan
adalah sekitar 5000 pounds.
Carabiner yang terbuat dari campuran alumunium (Alloy) ini
sangat ringan dan cukup kuat, terutama yang bebentuk D. Carabiner yang terbuat
dari baja mempunyai kekuatan yang sangat tinggi sampai 10.000 pounds tetapi
relatif berat bila dibawa dalam jumlah banyak untuk suatu pendakian.
Berikut ini adalah tabel daftar carabiners, pabrik pembuat dan
kekuatan menahan bobot. Bagian yang paling lemah dari carabiner adalah pin,
carabiner bentuk D relatif lebih aman dibanding bentuk oval, karena terdapat
cekungan yang memberi ruang bagi pin saat carabiner mendapat beban. Kelebihan
dari carabiner bentuk oval adalah relatif mudah dikaitkan pada piton.
tabel 2. kekuatan
carabiner
Ada carabiner yang dilengkapi tutup pada pintunya (screw
gate). Hal ini dimaksudkan agar carabiner tidak tebuka gatenya karena sesuatu
hal. Tentunya carabiner ini lebih berat dibandingkan yang tanpa tutup (non
screw gate).
4. Piton (peg, paku tebing)
Terbuat dari bahan metal dalam berbagai bentuk.
Berfungsi sebagai pengaman, piton ini ditancapkan pada rekahan tebing. Sebagai
kelengkapan untuk memasang atau melepas piton digunakan hammer.
gambar 4. Piton
Pada umumnya piton dapat digolongkan dalam 4 jenis, yaitu
Bongs, Bugaboos, Knife-blades dan Angle. Piton jenis angle, knife-blades, dan
bongs biasanya digunakan untuk rekahan horizontal maupun vertikal. Sedangkan
yang bugaboos biasanya dibuat khusus untuk horizontal atau vertikal saja.
Cara pemasangan piton sangat sederhana. Setelah memeriksa
rekahan yang akan dipasang piton, kita memilih piton yang cocok dengan rekahan,
lalu ditancapkan dan pukul dengan hammer. Salah besar kalau kita memilih piton
dulu baru memilih rekahan pada tebing. Untuk mengetahui rapuh tidaknya rekahan
yang akan kita pasang piton, adalah dengan memukulkan hammer pada tebing
sekitar rekahan. Suara yang nyaring menunjukkan rekahan tersebut tidak rapuh.
Adakalanya rekahan yang kita hadapi membutuhkan cara
pemasangan yang berbeda dan atau perlu dimodifikasi dengan alat lain, sehingga
perlu beberapa cara khusus dalam pemasangannya.
Cara melepas piton adalah dengan menggunakan hammer yang kita
pukulkan pada mata piton searah dengan rekahan sampai pada akhirnya piton dapat
ditarik.
.
gambar 5. Berbagai
jenis piton dan hammer
gambar 6.Memasang Piton
5. Chock
Disamping piton, chock juga berfungsi sebagai alat
pengaman (runners). Dibuat dalam beberapa jenis dan ukuran, dapat dibagi
menjadi : sling chock, wired chock, dan rope chock. Diantaranya berbentuk
hexentric dan foxhead.
gambar 7. Chock dan
pemasangannya
Chock dibuat dari alumunium alloy sehingga sangat ringan. Cara
memasang chock adalah dengan menyangkutkan pada rekahan. Sangat disukai
pemanjat yang berpengalaman, karena mudah menempatkannya pada rekahan dan tidak
memerlukan tenaga serta waktu banyak seperti halnya memasang piton.
6. Ascendeur
Ascendeur digunakan sebagai alat bantu naik, merupakan
perkembangan dari prusik, mudah mendorongnya ke atas tapi dapat menahan beban.
Dalam menggunakan ascendeur sebaiknya menggunakan sling terlebih dahulu sebelum
disangkutkan pada carabiner. Ascendeur terbagi menjadi 2 jenis yaitu :
a. Jumar
Merupakan alat bantu naik pertama, terbuat dari
kerangka alumunium dan baja. Alat ini dapat dipakai untuk tali berdiameter 7 -
11 mm dan berkekuatan 1100 pounds. Jumar sendiri dapat dibagi menjadi 3 macam :
- Standard jumar
- Jumar
- Jumar CMI 5000 (ColoradoMountains Industries). Jenis ini mempunyai kekuatan
sekitar 5000 pounds dan carabiner dapat langsung disangkutkan pada kerangkanya.
b. Clog
Alat naik mekanis yang lain, mempunyai prinsip kerja
yang sama seperti jumar. Alat ini banyak digunakan di Inggris.
7. Descendeur
Alat ini digunakan turun tebing (abseiling, rapeling).
Pada prinsipnya untuk menjaga agar pendaki tidak meluncur bebas. Keuntungan
lainnya adalah tubuh tidak tergesek tali, sehingga tidak terasa panas.
gambar 8. jenis
descendeur
Beberapa jenis descendeur :
a. Figure of eight
b. Brake bar
c. Bobbin (petzl descendeur)
- single rope
- double rope
d. Modifikasi carabiner . Carabiner yang kita susun sedemikian rupa sehingga
berfungsi semacam brake bar.
8. Etrier (tangga)
Bila rute yang akan dilalui ternyata sulit, karena
tipisnya pijakan dan pegangan, maka etrier ini sangat membantu untuk menambah
ketinggian. Pada Atrificial Climbing, etrier menjadi sangat vital, sehingga
tanpa alat ini seorang pendaki akan sulit sekali untuk menambah ketinggian.
gambar 9. etrier
9. Harness
Harness sangat menolong untuk menahan tubuh, bila pendaki
terjatuh, Juga akan mengurangi rasa sakit dibandingkan bila kita menggunakan
tali langsung ke tubuh dengan simpul bowline on a coil.
Harness yang baik tidak akan mengganggu gerak tubuh dari
pendaki. Akan tetapi sangat terasa gunanya bila pendaki dalam posisi istirahat.
Jenis - jenis harness :
a. Full body harness
Harness ini melilit di seluruh tubuh, relatif aman dan biasanya dilengkapi
dengan sangkutan alat disekeliling pinggang. Sering dipakai di medan salju/es.
b. Seat harness
Harness ini lebih sering dipakai, mungkin karena tidak begitu mengganggu
pendaki dalam bergerak. Seat harness dapat dibuat dari webbing (swami belt) dan
diapersling atau dengan menggunakan figure of eight sling.
10. Helm
Bagian tubuh yang paling lemah adalah kepala, sehingga
perlu mengenakan helm untuk melindungi dari benturan tebing saat pendaki
terjatuh atau bila ada batu yang berjatuhan. Meskipun helm agak mengganggu,
tetapi kita akan terhindar dari kemungkinan terluka atau keadaan fatal.
11. Sepatu
Sepatu sangat berpengaruh pada suatu pendakian, ini
pun tergantung pada medan yang akan dilalui. Untuk medan batu kapur yang licin
dipakai sepatu yang bersol tipis dan rata. Sedangkan untuk medan sand stone
(batu pasir) atau medan basah dipakai yang bersol tebal dan bergerigi. Sepatu
panjat biasa dibuat tinggi, untuk melindungi mata kaki.
C. PENGETAHUAN TALI-TEMALI
Tati-temali merupakan pengetahuan dasar penting untuk seorang
pendaki. Beberapa simpul yang perlu diketahui adalah:
1. Figure of eight knot (simpul delapan)
Paling sering dipakai, mudah dibuat serta melepaskanya
setelah mendapat beban. Simpul ini dipakai untuk menyambung tali.
gambar 10. Figure of Eight Knot dan Water Knot
2. Water knot (simpul pita)
Sering digunakan untuk menyambung webbing/sling/tali
pita, meskipun dalam keadaan basah.
3. Bowline
Biasanya dipakai untuk anchor (titik tambat), karena
sifatnya yang bila mendapat beban akan semakin mengikat. Bowline terdiri dari :
a. Basic bowline
b. Bowline on the bight
gambar 11. Basic
Bowline dan Bowline on The Bight
4. Fisherman’s knot (simpul nelayan)
Simpul ini sangat baik untuk menyambung tali, baik
tali dalam keadaan basah ataupun bila dua tali yang disambung berbeda ukuran.
Yang biasa digunakan :
a. Single fisherman’s knot
b. Double fisherman’s knot
gambar 11. Single
Fisherman’s knot dan Double Fisherman’s knot
5. Sheet bend
6. Prusik
7. Overhand Loop
gambar 12. Sheet band,
Prusik dan Overhand Loop
D. PRAKTIK PANJAT TEBING
1. Bergerak
Bergerak pada tebing lebih menuntut perhatian kita
dalam menggunakan kaki. Pijakan kaki yang mantap akan lebih memudahkan kita
dalam bergerak dan untuk memperoleh keseimbangan tubuh. Seorang yang baru
belajar panjat tebing biasanya akan memusatkan perhatian pada pegangan tangan.
Hal ini justru akan mempercepat lelah dan kehilangan keseimbangan.
Tangan sebenarnya hanya membantu kaki dalam mencapai
keseimbangan tersebut, kecuali untuk kasus-kasus tertentu, seperti melewati
overhang, layback, dsb. Untuk itu, bagi pemula sebaiknya memusatkan perhatian
untuk mencari pijakan (foot hold). Dan membisikkan pada dirinya sendiri “lihat
ke bawah....!”.
Unsur terpenting dalam panjat tebing adalah keseimbangan;
bilamana menempatkan tubuh, sehingga beban tubuh dapat terpusat pada
titik-titik pijakan. Prinsip tiga point sangat baik untuk diterapkan. Yaitu
hanya menggerakan satu anggota badan saja (kaki kiri/kanan dan tangan
kiri/kanan), sementara tiga anggota badan lain tetap pada pijakan/pegangan.
Kesalahan lain yang biasa dibuat oleh seorang pemanjat pemula
adalah menempelkan tubuhnya rapat ke tebing. Hal ini justru merusak
keseimbangannya. Tubuh yang menempel pada tebing akan menyusahkan seorang
pendaki dalam bergerak.
Dalam melakukan gerakan, tidak perlu mencari pegangan yang
terlalu tinggi karena akan cepat menguras tenaga. Seperti halnya bila kita
berjalan dengan langkah lebar tentu akan cepat lelah. Bergeraklah seperti
‘puteri solo’, melakukan langkah kecil, tenang tapi pasti.
Hal lain yang mendukung dalam setiap jenis olahraga adalah
semangat. Dengan berlatih serius tentu kita akan dapat bergerak dengan anggun.
Ada perkataan seperti ini, “The best training for rock-climbing is
rock-climbing”, ya berlatih panjat tebing sebaiknya ditebing, melakukan panjat
tebing itu sendiri.
Sekali lagi, cobalah untuk mengingatkan diri sendiri dengan membisikkan
kata-kata, “lihat ke bawah....”.
2. Menggunakan Kaki
Dalam setiap gerakan, pengerahan energi harus
diperhitungkan, sehingga pada saat dibutuhkan, energi tersebut dapat dikerahkan
secara penuh. Konservasi energi dengan koordinasi antara otak dengan tubuh
adalah keseimbangan antara apa yang terpikir dan apa yang mampu dilakukan tubuh
kita.
Posisi telapak kita jelas akan menentukan ketepatan titik
beban pada kaki. Menempelkan lutut pada tebing justru akan merusak
keseimbangan. Usahakan untuk merencanakan penempatan kaki dahulu sebelum
mencari pegangan tangan. Gambar di bawah menunjukkan beberapa penempatan kaki.
3. Menggunakan Tangan
Setelah menempatkan posisi kaki dengan benar, tangan
akan membantu dalam mencapai keseimbangan tubuh seseorang pendaki dengan
memanfaatkan rekahan atau tonjolan batu. Rekahan tersebut bisa berupa rekahan
kecil dan besar yang cukup untuk seluruh badan. Tonjolan secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga macam, tonjolan tajam (incut), tonjolan datar (flat),
dan tonjolan bulat (rounded/sloping).
Berdasarkan retakan dan tonjolan tebing, maka pegangan dapat
dibagi menjadi beberapa macam:
a. Pegangan biasa
Untuk tonjolan yang cukup besar (incut dan flat),
seluruh tangan dapat digunakan, tapi ada kalanya sangat kecil sehingga hanya
jari yang dapat digunakan.
gambar 13. Flat Hold,
Pressure push hold
b. Pegangan Tekan (pressure push hold)
Pegangan ini diperoleh dengan cara mendorong tangan
pada bidang batu yang cukup luas.
c. Pegangan Jepit
Jenis ini dipakai untuk tonjolan bulat (rounded atau
slopping). Kalau tonjolan ini cukup besar bisa seluruh tangan digunakan, tetapi
bila kecil hanya jari saja yang digunakan.
d. Jamming
Pegangan ini dilakukan secara khusus, yaitu dengan
cara menyelipkan tangan sehingga menempel dengan erat. Sesuai besar kecilnya
celah batu jamming dibagi atas beberapa macam:
- jamming dengan jari atau tangan (finger and hand jamming)
- jamming dengan kepalan atau lengan (fist and arm jamming)
gambar 14. Jamming
4. Gerakan Khusus Dalam Panjat Tebing
Dalam bergerak, sering dijumpai kondisi medan yang
sulit dilewati dengan hanya mengandalkan teknik pegangan biasa. Untuk itu, ada
beberapa gerakan khusus yang penting diketahui.
a. Layback
Diantara dua tebing yang berhadapan dan membentuk
sudut tegak lurus, sering dijumpai suatu retakan yang memanjang dari bawah ke
atas. Gerakan ke atas untuk kondisi tebing seperti itu dengan mendorong kaki
pada tebing di hadapan kita dan menggeser-geserkan tangan pada retakan tersebut
ke atas secara bergantian pada saat yang sama. Gerakan ini sangat memerlukan
pengerahan tenaga yang besar, karenanya gerakan harus dilakukan secara tepat
sebelum tenaga kedua tangan habis.
b. Chimney
Bila kita menemukan dua tebing berhadapan yang
membentuk suatu celah yang cukup besar untuk memasukkan tubuh, cara yang
dilakukan adalah dengan chimney yaitu dengan menyandarkan tubuh pada tebing
yang satu dan menekan atau mendorong kaki dan tangan pada dinding yang lain.
Tindakan selanjutnya adalah dengan menggeser-geserkan tangan, kaki dan tubuh sehingga
gerakan ke atas dapat dilakukan. Berdasarkan lebar celah batu yang kita hadapi,
maka chimney dapat dibagi atas:
- Wriggling
Wriggling dilakukan pada celah yang tidak terlalu luas sehingga cukup untuk
tubuh saja.
- Backing Up
Backing Up dilakukan pada celah yang cukup luas, sehingga badan dapat menyusup
dan bergerak lebih bebas.
- Bridging
Bridging dilakukan pada celah yang sangat lebar sehingga hanya dapat dicapai
apabila merentangkan kaki dan tangan selebar-lebarnya.
c. Mantelshelf
Dilakukan bila menghadapi suatu tonjolan datar atau
flat yang luas sehingga dapat menjadi tempat untuk berdiri. Caranya yaitu
dengan menarik tubuh dengan kekuatan tangan dan tolakan kaki sehingga dapat
melalui tonjolan tadi. Salah satu kaki kemudian menginjak dataran batu tersebut
sejajar dengan tangan, disusul dengan kaki yang lainnya.
d. Cheval
Cara ini dilakukan pada batu yang biasa disebut arete
yaitu bagian punggung tebing batu dengan bidang yang sangat tipis dan
kecil.Pendaki yang menggunakan cara ini mula-mula duduk seperti menungang kuda
pada arete, lalu dengan kedua tangan menekan bidang batu dibawahnya, ia
mengangkat atau memindahkan tubuhnya ke atas.
e. Traversing
Adalah gerakan menyamping atau horisontal dari suatu
tempat ke tempat lain. Gerakan ini dilakukan untuk mencari bidang batu yang
baik untuk dipanjat, untuk mencari rute yang memungkinkan menuju ke atas.
Karena gerakan ini horisontal, biasanya lebih banyak digunakan tangan dari pada
kaki (hand traveserse).
gambar 15. Traversing
f. Slab Climbing / Friction Climbing
Dilakukan pada tebing yang licin dan tanpa celah atau
rekahan serta kondisi tidak terlalu curam.
5. Leading and Runners
a. Leading (memimpin pendakian)
Umumnya dalam setiap pendakian, harus ada seorang yang
menjadi pendaki pertama (leader), biasanya dipilih seorang yang berpengalaman.
Untuk menjadi leader dibutuhkan pengetahuan yang cukup tentang panjat tebing.
Ketenangan dalam menyelesaikan rute-rute sulit, menempatkan piton-piton dan
chock dengan tepat, keyakinan untuk bergerak ke atas dengan mulus serta dengan
keyakinan pula menempatkan diri pada posisi istirahat. Bila rute tersebut masih
asri / belum terjamah sebelumnya, maka menciptakan rute baru menurut seorang
pendaki terkenal merupakan karya seni yang luar biasa. Untuk mengamankan dirinya
dari kemungkinan jatuh, seorang leader akan menempatkan suatu rangkaian jalur
pengaman pada tempat-tempat yang tepat. Jalur pengaman (runners) yang dibuat
selurus mungkin, ini dimaksudkan untuk mengurangi gesekan antara karabiner
dengan tali pengaman. Hal ini untuk mencegah copotnya runners.
b. Runners
Runners adalah tempat tumpuan tali pengaman yang
dipasang oleh pendaki pertama untuk memperkecil jarak jatuh yang mungkin
timbul. Semakin banyak runners yang dipakai, makin terjaga pula pengamanan
untuk si pendaki. Akan tetapi banyak juga para pendaki yang beranggapan bahwa
pemakainan runners harus sesedikit mungkin, untuk menjaga kelestarian tebing
bersangkutan. Runners umumnya dipakai untuk proteksi pendaki pertama, akan
tetapi untuk kasus-kasus tertentu bisa juga dipakai untuk proteksi pendaki
kedua. Sesuai perkembangan peralatan panjat tebing, runners dapat dibentuk dari
banyak alat. Akan tetapi pada prinsipnya runners dapat dibentuk dengan piton,
sling, dan chock.
6. Belaying dan Anchor
a. Belaying
Merupakan hal yang penting dalam suatu rangkaian
panjat tebing (claimbing chain). Belayer yang baik harus terlatih sehingga
dapat menyelamatkan leader, bila leader terjatuh. Untuk itu dibutuhkan latihan,
disamping memahami cara-cara yang tepat. Komunikasi antara belayer dengan
leader harus jelas dan dimengerti oleh kedua belah pihak. Karena adakalanya
leader minta belayer untuk mengendorkan tali (slack) ataupun mengencangkan tali
(tension). Cara penempatan anchor untuk belayer dan teknik belay yang baik dapat
dilihat pada gambar di bawah.
b. Anchor
Anchor (jangkar) adalah suatu titik keamanan awal
dimana yang kita buat disangkutkan di sana. Anchor berguna untuk mengikatkan
tali yang telah bersimpul tersebut dan dipakai untuk rappeling (turun), naik
(memakai alat) atau untuk mengikatkan seseorang bila ia menjadi seorang
belayer. Ada anchor alamiah yang relatif kuat dan ada pula anchor buatan dengan
bantuan piton, bolt, chock, sling, dan etrier. Anchor buatan umumnya dipakai
bila sama sekali tidak ada anchor alamiah misalnya pada suatu pitch di
tengah-tengah tebing.
gambar 16. Membuat
Anchor Bolt
c. Belaying dan penggunaan Runners
Ada beberapa pendaki yang senang melakukan panjat
tebing seorang diri, tetapi kebanyakan kegiatan ini dilakukan oleh satu
kelompok yang terdiri dari beberapa pendaki. Dalam ‘free climbing’ beberapa
alat pendakian juga digunakan, meskipun pemakaian terbatas untuk proteksi saja.
Tali misalnya, bukan untuk memanjat atau pegangan, tapi untuk tali pengaman
(safety rope) yang menghubungkan pendaki dengan pendaki lain yang menjadi
belayer.
Demikian halnya alat-alat lain seperti karabiner, piton, chock
atau sling yang semuanya digunakan untuk proteksi. Pendakian oleh satu kelompok
dipandang sebagai suatu hal yang menjamin keamanan para pendaki. Pendaki
pertama diikat dengan tali pengaman yang dihubungkan dengan pendaki kedua yang
melakukan belaying. Untuk menghindarkan akibat jatuh yang fatal, maka jarak
jatuh si pendaki dengan belayer harus dipersempit. Caranya yaitu dengan
menempatkan runners (running belay) pada jarak-jarak di tebing batu. Dengan
menempatkan runners sebanyak mungkin, diharapkan faktor kejatuhan (fall factor)
dapat diperkecil.
Bila pendaki pertama berhasil mencapai tempat berpijak yang
aman, maka sekarang ia membantu mengamankan pendaki kedua dengan memberikan
belaying (upper belay). Jarak antara tempat pendaki pertama berpijak dengan
pendaki kedua yang menjadi belayer (low belaying) secara teknis disebut
“pitch”. Jadi banyak pitch pada satu tebing tergantung frekuensi belaying yang
dilakukan.
7. Abseiling (Rapeling)
Setelah mencapai puncak tebing, persoalan berikutnya
adalah bagaimana turun kembali. Pada saat turun, pandangan pendaki tidak seluas
atau sebebas ketika mendaki. Inilah sebabnya mengapa turun lebih sulit dari
pada mendaki. Karenanya alat sangat diperlukan pada saat turun tebing
(abseiling/rapeling). Cara turun dengan menggunakan tali melalui gerakan atau
sistem friksi sehingga laju luncur pendaki dapat terkontrol.
Berdasarkan pemakaian alat maka abseiling dapat dibagi atas :
teknik tanpa karabiner (classic method) dan teknik dengan karabiner (crab
method).
gambar 17. Abseiling
a. Teknik Dulfer
Cara klasik dalam turun tebing. Hanya menggunakan tali
luncur (abseiling rope) yang diletakkan diantara dua kaki lalu menyilang dada
dan melalui bahu. Laju turun ditahan dengan satu tangan.
b. Teknik Modified Dulfer
Teknik semi klasik. Menggunakan karabiner tersebut
tali luncur menyilang ke salah satu bahu lalu dipegang oleh satu tangan untuk
kontrol.
c. Teknik Komando
Di Indonesia, cara ini sering dipakai oleh para
komando. Caranya dengan melilitkan karabiner dengan tali sebanyak dua kali, dan
dengan melewati antara kaki maka laju badan dikontrol dengan gerakan tali
luncur tersebut pada salah satu tangan. Adakalanya tali luncur tersebut tidak
melalui dua kaki tetapi hanya satu paha, lalu gerakan friksinya diatur oleh
tangan yang sejajar dengan paha tersebut.
d. Teknik Brake Bar
Empat buah karabiner disusun melintang sedemikian rupa
sehingga merupakan sistem friksi (lihat kembali: descendeur), lalu tali luncur
melewatinya dengan dikontrol oleh satu tangan pendaki. Sistem friksi kemudian
dikembangkan dengan sistem descendeur khusus yang disebut bar crab.
Abseiling dengan penggunaan karabiner atau tanpa karabiner
dilakukan pada tebing batu yang tidak terlalu tinggi. Bila kita berhadapan
dengan satu tebing yang panjang atau tinggi, maka cara ini tidak
dianjurkan.Untuk kasus seperti itu dapat menggunakan descendeur, seperti figure
of eight, bobbin atau brake bar.
Karena abseiling sangat tergantung pada alat yang dipakai maka
persiapan penggunaanya harus betul-betul diperhatikan. Pastikan bahwa ikatan
pada anchor benar-benar kuat. Periksa kembali apakah ujung tali telah disimpul.
Sebaiknya selain abseile rope persiapkan juga safety rope yang diamankan oleh
pendaki kedua.
Dengan memasang karabiner untuk meluncur, mutlak diperhatikan
arah pintu (gate) karabiner tersebut. Ingat prinsip friksinya jangan sampai
terbalik tetap gate karabiner. Kalau perlu screw gate karabiner.Tangan yang
mengontrol laju tidak boleh dilepas, karena luncuran yang tidak terkontrol
dapat berakibat fatal.
Jangan memaksa untuk melakukan lompatan pada abseiling,
kecuali pada tebing yang menggantung (overhang). Turunlah perlahan-lahan,
lompatan akan memberi tekanan pada tali sehingga kemungkinan tali lepas atau
aus lebih besar. Lagi pula, lompatan sering membuat pendaki lepas kontrol dan
mendarat kurang tepat.
8. Urutan Suatu Pendakian
a. Memilih rute
Pada umumnya dipilih berdasarkan data-data yang sudah
ada, misalnya dari buku-buku panduan atau dari para pendaki yang pernah
melewatinya.
b. Mempersiapkan peralatan
Persiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan
rute yang dipilih.
c. Menentukan leader
Leader dipilih oleh mereka yang dianggap lebih
berpengalaman. Apabila dalam regu tersebut kemampuannya sama, leader dapat
bergantian.
d. Mempersiapkan pendakian
- Buat anchor pada posisi yang tepat.
- Leader mempersiapkan diri, yaitu seluruh peralatan pendakian yang ditempatkan
pada gantungan yang tersedia atau pada sekeliling harness.
- Belayer mempersiapkan diri, yaitu dengan mengikatkan diri pada anchor.
- Aba-aba. Apabila leader telah siap, dia akan berkata “ belay on” dan disahuti
oleh belayer dengan “on belay”.
e. Memulai pendakian
- Leader naik menuju pitch (belayer harus seksama
memperhatikan seluruh gerakan yang dilakukan oleh leader, cara memasang chock,
melewati overhang/tebing atap/tebing yang menggantung istirahat, memasang
sling, dsb.
- Leader menyangkutkan tali pengaman pada runner yang dibuatnya.
- Berikutnya kadang-kadang leader melakukan gerakan khusus atau menggunakan
tangga untuk dapat terus naik.
- Bila leader jatuh akan tertolong oleh belayer bila runner telah terpasang
kuat.
- Setelah cukup tinggi sekitar 40 meter lebih, leader akan mencari tempat yang cukup
aman untuk memasang anchor.
- Adakala sebelum setinggi itu terdapat teras lebih baik anchor dipasang di
sini. Bila leader merasa cukup aman terikat pada anchor yang dibuat dia akan
berkata “belay off”
- Leader telah menyelesaikan pitch I
gambar 18. urutan
pendakian
f. Belayer mempersiapkan diri untuk menyusul leader ke
pitch I
- Langkah pertama ia akan membuat anchor
- Ujung tali yang dipakai untuk mem-belay disangkutkan pada tubuhnya
- Belayer melakukan cleaning up (membersihkan runner yang dibuat oleh leader).
Biasanya ia dilengkapi oleh hammer yang berguna untuk mencopot piton.
- Belayer sebagai pendaki kedua sampai di pitch I
g. Meneruskan ke pitch I
- Bila ada pendaki ketiga, leader akan memasang fixed
rope (tali tetap) untuk pendaki ketiga yang naik menggunakan ascendeur.
- Bila hanya berdua, akan dimulai proses pendakian seperti sebelumnya.
9. Artificial Climbing
Pada suatu keadaan tertentu dimana tebing tidak ada
hold (tonjolan batu) tetapi hanya ada rekahan kecil yang tidak dapat digunakan
untuk pijakan dan pegangan, maka pendakian akan menggunakan alat berupa piton,
friend, chock serta etrier dalam menambah ketinggian.
Dalam hal ini etrier menjadi alat yang sangat vital sebagai
pijakan. Dengan cara menempatkan etrier pada chock/friend/piton yang terpasang
pada rekahan. Pendaki memasang lebih ke atas lagi chock/friend/piton, kemudian
etrier dipindahkan pada chock/friend/piton yang terpasang tersebut. Demikian
seterusnya berulang-ulang sehingga pendaki mencapai ketinggian yang diinginkan.
Demikianlah ringkasan suatu pendakian pada umumnya. Akhirnya
makalah ini kami cukupkan sampai di sini. Untuk lebih jelas sebaiknya kita
berlatih di lapangan/tebing.
gambar 19. aid climbing